Pages

Monday, November 10, 2008

== Kenapa gue engga menggunakan Linux ? (Cerita Fiksi)


Hallo, perkenalkan, nama gue Jhon (Nama samaran), gue kuliah di sebuah Perguruan Tinggi di Jakarta, mengambil jurusan Ilmu Komputer. Gue pengen cerita, mengenai kehidupan gue yang kelam beberapa saat yang lalu, semoga bisa menjadi pelajaran bagi elo sekalian.

Cerita nya begini, gue pernah berkenalan dengan salah seorang mahasiswa di kampus gue, orang nya lumayan baik dan pintar. Bicara ngalor ngidul, ternyata dia mengaku, bahwa dia adalah seorang anggota genk Under ground di kampus gue, gang Papenux (Pasukan Pencinta Linux) nama nya. Mendengar nama itu, wah, gue mulai ambil jarak dengan dia, karena Bokap gue pernah bilang untuk jangan dekat-dekat dengan Linux. Gue belum tahu alasannya apa, tapi denger-denger itu karena Linux bisa di dapatkan dengan gratis dan itu engga sesuai dengan nilai-nilai di keluarga gue, yang selalu membeli barang bermerek dan berkelas dan tentu nya mahal dong .... sedangkan Linux, gratis ... bisa turun gengsi keluarga gue memakai barang murahan, apalagi gratisan, begitu yang gue denger dari orang-orang rumah gue. Oh ya ... bukannya sombong nich, keluarga gue memang bisa di bilang keluarga tajir, jadi uang bukannya masalah. Dan juga om-om gue yang para pembuat virus dan hacker itu juga kagak doyan yang namanya Linux, mereka nilai Linux bisa membuat frustasi mereka untuk menembus security nya dan virus nya sedikit, sehingga mereka engga bisa menjual produk Anti Virus mereka ke orang-orang Linux.

Kembali ke anggota Papenux tadi, walaupun gue mulai ambil jarak dengan dia, ternyata dia terus mendekati gue dan akhir nya gue tahu, dia emang niat nawarin gue untuk make Linux di tambah bujuk rayu teman-temannya se genk ke gue. Awal nya gue nolak, tapi karena bujuk rayu nya tingkat tinggi dan World Class punya, setelah di sodori sebuah bungkusan, akhir nya gue terima bungkusan itu dan ternyata isi nya adalah CD Linux, gue terima dan gue coba-coba make itu barang . Sekali dua kali, gue merasa pusing dan merasa aneh, tapi mereka bilang "Itu, karena elo belum terbiasa aja, lihat nich... kita-kita , enjoy dan fly koq".
Gue terus menerus di sodorin itu Linux dan gue di ajarin make itu Linux, dari teknik tingkat cere sampe teknik tingkat Koboy Texas. Pernah suatu hari, gue di ajak ke komplek Warung terang benderang tempat genk Papenux biasa nongkrong. Di situ gue di perkenalkan berbagai macam distro Linux dan teknik-teknik Linux biar gue bisa fly dengan Linux.

Lama kelamaan gue merasa enjoy dalam menggunakan Linux, hingga Linux gue selundupkan ke dalam kamar gue, takut bokap dan nyokap serta abang dan adek gue tahu bahwa gue make Linux, maklum mereka menganut paham Borju dan Mahal=hebat dan juga mereka pecinta berat Microsoft, Adobe, Oracle dan merek-merek software proprietary lain yang mahal.
Siang malam, pikiran gue engga bisa lepas dari Linux, mau makan, gue inget Linux, mau tidur juga, sampe-sampe gue Mimpi di kerubutin Penguin di Kutub Utara sana, tapi untung nya kuliah gue jadi lebih semangat, karena gue pikir, ilmu-ilmu kuliah mendorong gue untuk bisa akrab dengan Linux, dari belajar Sistem Operasi, Algoritma hingga Database.
Jadwal hidup gue udah berubah, pergi pagi, pulang malam karena musti nongkrong dulu dengan Genk Papenux untuk berpesta Pora Linux dan setiap di tanya Bokap dan Nyokap, gue bilang, gue habis bersilaturrahmi dengan teman-teman. Mendengar kata Silaturrahmi, mereka senang banget, karena gue di nilai religius, tapi bener kan nongkrong=silaturrahmi ?!.

Akhir nya gue di terima di genk Papenux, setelah di anggap gue bisa enjoy dan fly dengan Linux. Setiap malam minggu, kita mengadakan Pesta Linux Bebas. Masing-masing kita membawa pasangan nya ke pesta itu, Franky, senior Genk Papenux, menggandeng pasangannya yang aduhai cantik nya, tampilan desktop nya itu lho, membuat mata setiap cowok (dan cewek juga) bisa melotot melihat tampilan GUI KDE nya yang sudah menggunakan KDE 4.0 dengan animasi nya di tambah dia make Kartu Grafis terkini. Dia nyebut pasangannya Ubuntu 8, si Alex anggota genk yang lain, gue lihat sedang berduaan aja di pojokan dengan Fedora 9.0 nya, sementara gue ngajak si Mandriva 2008. Di Pesta Linux bebas, kita main dengan Linux, kutak-katik sampe pagi di selingi nonton film BF (Be a linuxer Film). Tentu aja pesta ini di adakan secara diam-diam, karena kebetulan masyarakat di sekitar sana, adalah penganut paham Proprietary (Software Komersial) tulen dan pecinta petani., walaupun mereka bukan petani. Gabungan kedua sifat itu membuat mereka menggunakan produk Microsoft, Adobe dan Oracle dengan cara membajak, maklum aja pekerjaan petani kan biasa membajak sawah, jadi mereka menggunakan software bajakan. Di pesta itu, kami juga membuat software dengan teknik algoritma tingkat tinggi dan memposting secara bebas di komunitas Open Source. Untuk yang satu ini, jangan sampe temen-temen di kampus gue tahu, mereka bisa anggap gue sinting dan gila, dengan membuat software yang rumit sampe jungkir balik, lalu engga di jual, tapi di posting secara gratis, source code nya di umbar lagi.

Setiap pertemuan keluarga besar, pasti gue menyendiri aja di pojokan, karena khawatir bisa ketahuan bahwa gue anggota genk Linux, para anggota keluarga besar gue yang rata-rata penyandang gelar MCSE, MCDB dan OCP dan penganut paham closed source punya penciuman tajam mengendus adanya bau-bau Penguin di sekitar mereka dan dengan indera ke enam nya, mereka bisa lihat tampang gue yang mirip-mirip Penguin (Secara kasat mata), karena udah kecanduan berat Linux.

Lama-kelamaan keluarga gue tahu juga, bahwa gue udah kecanduan Linux, karena bicara gue udah bicara model seorang pemberontak, sering menggunakan kata-kata aneh, seperti :class, extends dan function yang merupakan indikasi kena "Object Oriented Syndrome" akibat kebanyakan coding dan ada bahasa Penguin nya dikit-dikit. Kamar gue di geledah dan gue hanya bisa pasrah aja, mereka berhasil menemukan majalah-majalah model PlayBoy(PLAYing with Linux, BOY) , artikel berbau Codinggrafi dan cd-cd Linux gue.

Gue di interogasi, oleh bokap,nyokap dan om-om gue yang beraliran closed source. Awalnya gue diam seribu bahasa, tapi karena di desak terus, akhir nya gue cerita, bahwa gue adalah anggota genk Papenux. Ortu dan om-om gue marah besar, mereka mendesak gue nunjukin alamat situs Papenux itu, dengan terpaksa gue nunjukin, bahwa alamat situs nya adalah www.xxx.net. Setelah mengetahui alamat situs Papenux, mereka segera membuka laptop mereka dan terkoneksi ke Internet High Speed. Awal nya gue bengong, mau ngapain mereka, tapi akhir nya gue di kasih tahu, bahwa mereka mau mendeface bahkan mau membumi hanguskan situs tsb. Gue kaget bukan kepalang, karena situs itu adalah kehormatan genk Papenux, ibarat seorang samurai, pedang samurai adalah kehormatannya. Gue di paksa nonton adegan pembumi hangusan situs Papenux, tapi karena badan gue ada bau-bau Penguin nya, mereka engga mau deket-deket sama gue, akhir nya gue nonton di suatu ruangan yang terisolasi dan di jaga ketat serta di jauhkan dari segala alat komunikasi, hp,laptop,pc, apalagi koneksi Internet, takut gue menangkal serangan mereka kata nya. Gue di jaga ketat dan duduk di pojokan di layar LCD nonton aksi perusakan situs Papenux. Gue nonton dengan harap-harap cemas, karena gue tahu Om-Om gue merupakan Cracker dan Hacker aliran Closed Source kelas dunia. Tidak hanya mereka saja, tetapi meraka memanggil hacker-hacker kelas dunia teman-teman di luar negeri juga untuk membumi hanguskan situs Papenux,kerja bareng secara online. Setelah selama 3 hari 3 malam, mereka berusaha dengan segala cara dan teknik, mereka menyerah, mereka gagal mendeface, apalagi sampe menghancurkan situs Papenux. Mereka berkomentar, bahwa situs Papenux di buat oleh orang-orang gila, mereka membuat situs ini dengan tingkat security dan enkripsi yang sangat tinggi dan pemrograman web dengan security yang berlapis-lapis dan semua nya menggunakan Linux dan software Open Source. Mendengar itu, gue lega, tetapi Bokap dan Nyokap bertambah marah, karena gue di nilai tidak hanya kecanduan Linux, tetapi juga sudah bergaul dengan orang-orang yang tidak benar, yaitu orang-orang gila genk Papenux.

Setelah berdiskusi, akhir nya mereka sepakat untuk merehabilitasi gue di pusat rehabilitasi MMH (Microsoft Minded Rehabilitation) di luar negeri. Di sana pagi-siang-malam, gue di cekoki closed source dan di masukan di ruang MCSE dan MCDB, gue di awasi 24 jam terus menerus , terutama kegiatan online gue, biar gue engga berkoneksi lagi dengan Linux dan kroni-kroni nya.
Setelah mendekam di sana selama 2 tahun, gue balik, bokap dan nyokap serta om dan tante gue happy, karena gue udah balik lagi ke jalan yang mereka ridhoi, jalan yang benar, kata mereka. Oleh karena pengalaman itu, gue balik lagi menggunakan produk Microsoft, Oracle dan Sourced Close lain , itulah alasan kenapa gue engga menggunakan Linux.
Begitulah kisah gue yang pernah kecanduan Linux. Terima Kasih.


====================

( Cerita di atas adalah karangan belaka, cerita model di atas pernah ada sebelum nya di Internet, saya cuma nambah bumbu-bumbu dan ide cerita lain, jadilah cerita versi saya.
Jika ada kesamaan dan kemiripan dengan dunia nyata, itu sah-sah aja.)