Pages

Thursday, April 17, 2008

Tatkala Bos Memanggil

Suatu saat, saya melihat seorang Bos memanggil sekretaris nya, sebut saja nama sekretaris nya adalah Tuti. “Tuti ...”, panggil sang Bos, lalu Tuti berlari menghampiri sang Bos.
Yang membuat saya berfikir adalah, kenapa Tuti harus berlari saat sang Bos memanggil, karena jarak antara dia dan sang Bos, tidak lah jauh, sekitar 8 m saja dan sang Bos tidak dalam keadaan sangat membutuhkan atau emergency, sehingga Tuti perlu berlari kecil. Dan juga, mereka tidak berada di dalam lingkungan militer atau semi militer, yang berlari adalah sesuatu yang biasa saja atau mungkin keharusan.
Apakah ada yang salah ... ? saya kira juga tidak ada yang salah, hanya saja, hal itu menggambarkan, bahwa sang Bos, begitu 'besar' nya di hati Tuti, sehingga Tuti takut, jika sang Bos menganggap nya lama jika di panggil. Atau yang lebih parah lagi, Tuti menganggap, hidup dan kesejahteraan nya berada di tangan sang Bos, semoga hal ini bukan yang ada di dalam diri Tuti, semoga saja.
Saat itu saya berfikir agak 'usil', besar mana antara sang Bos dengan Allah Ta'ala ?, yang mana, Tuti sampai tergopoh-gopoh mendatangi sang Bos, sedangkan dengan Allah, ia belum tentu berbuat seperti itu ,atau bahkan banyak di antara kita yang begitu bersemangat dan bersegera, ketika sang Bos memanggil, tetapi ketika Allah memanggil (Adzan), kita mengabaikan nya, padahal kita mendengar jelas dan sedang tidak dalam keadaan sakit atau takut bahaya .
Saya juga berfikir ,Jika sang Bos berseru , “Tuti ... !!!, sana kamu, jangan kerja dan berada di perusahaan saya lagi !!!, saya sudah bosan dengan kamu !!”, misal kan , toh Tuti tetap masih tetap bisa hidup dan bahkan masih bisa bebas berada di mana saja, selain di tempat sang Bos tsb yang juga jika di bandingkan dengan luas dunia, luas perusahaan sang Bos, tidak ada apa-apa nya, atau bahkan Tuti dapat bekerja di tempat lain dengan keadaan yang lebih baik.
Lalu, bagaimana jika Allah berseru kepada Tuti ,” Tuti, kamu membangkang, keluar kamu dari kolong langit ku !”, misalkan, Nah lho ... tentu nya Tuti sudah skak mat, tidak punya tempat lagi untuk hidup.
Di dalam suatu Khotbah Jum'at, sang Khotib bercerita, bahwa ada seorang teman Mu'allaf nya dari Australia, ia berkata, bahwa ia tidak percaya, Indonesia bermayoritas Muslim. Sang Khotib bertanya, “Kenapa bisa ?, sekitar 85 % penduduk Indonesia adalah Muslim”, lalu teman Mu'allaf nya berkata, “Bukti nya tatkala Adzan bergema, hanya sedikit yang sholat di Masjid”. Sang Khotib berkata lagi, “ Tetapi nanti, mereka yang tidak sholat berjama'ah di Masjid, toh akhir nya akan sholat juga di waktu kemudian (Tidak di awal waktu)”. Lalu sang Mu'allaf berkata “ Panggilan mana lagi yang paling besar, selain Allah yang memanggil ?!”, sang khotib bergetar mendengar komentar tsb.
Memang, adzan itu di kumandangkan oleh Muadzin, tetapi hakikat nya Allah Ta'ala lah yang memanggil nya. Di dalam suatu hadits, ada seorang cacat/pincang yang meminta keringanan dari Rasul agar tidak memenuhi seruan Adzan lalu Rasul membolehkannya, tetapi Rasul lalu bertanya kepada Orang tsb, apakah kamu mendengar nya ?,”Iya”, jawab nya. Setelah mendengar jawaban tsb, Rasul memerintahkan untuk memenuhi seruan Adzan, walau harus terseok-seok.
Pelajaran yang lain dari kisah Bos memanggil di atas adalah, keyakinan kita terhadap keberadaan Allah dan kemaha kuasa an Allah yang belum teresapi di dalam dada. Jika sang Bos, memecat saya, saya nanti makan apa ?, kalau ada orang yang menjawab, “Allah lah yang memberi makan kamu dan anak-anak mu ?!”, setelah mendengar perkataan tsb, apakah kita merasa tenang atau malah berkata di dalam hati , Apa Iya ... ?!.
Tatkala menghadapi ketidak pastian di dalam hidup, termasuk dalam masalah Rezeki dan penghidupan, rasa khawatir adalah wajar menyelinap di dalam dada kita tentang masa depan dan di sinilah keimanan itu menghadapi ujiannya, apakah kita masih ragu terhadap Allah sang pemberi Rezeki yang tidak di batasi oleh pekerjaan kita atau Bos kita ? Atau kah kita tetap yakin, Rezeki akan tetap ada, walaupun kita di PHK atau perusahaan dalam keadaan bangkrut misalkan ... ?. Hanya hati kita masing-masing yang dapat menjawab keadaan tsb.
Saya akan akhiri tulisan singkat ini dengan suatu kisah. Suatu ketika, Imam Hasan Al-Bashri di tanya oleh seseorang ,”Ya Imam, daerah saya kekeringan , bagaimana solusi nya ?” sang Imam menjawab “ Beristighfarlah”. Lalu, ada orang lai yang mengunjungi sang Imam dan mengadukan persoalannya, bahwa ia belum memiliki keturunan sejak lama, sang Imam menjawab “Beristighfarlah”. Setelah itu, ada seseorang yang juga mengadukan persoalannya, ia mengadu karena kehidupannya yang sulit (miskin), sang Imam menjawab “Beristighfarlah”.
---- AS ----

3 comments:

agus syaefudin said...

Halo wan, tulisan yang menarik dan semoga bermanfaat kepada kita. Perbanyak lagi wan tulisan seperti ini dan tetap semangat untuk tetap produktif dan kreatif dalam menulis.... salam.. cup cup..muuaaaachhhh.

sofwan said...

Trim's atas comment nya ... Semoga gue bisa lebih banyak dan lebih baik dalam berkarya di dunia tulis-menulis, Amiin ...

agus syaefudin said...

wan tulisan "tatkala bos memanggil" saya kutip di blog saya, jangan takut sumber tetap saya tuliskan... haturnuhun